Minyak klentik, termasuk makromolekul dan Bagaimana secara Ethnosains?

Menurut van Peursen dalam Sidharta (2008) , Ilmu, sains, atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Sains/Pengetahuan ilmiah sebagai suatu pengetahuan disiplin, dikonstruk secara identik dan secara simbolik di alam. Penalaran ilmiah ditandai dengan formulasi teoritis yang eksplisit yang dapat dikomunikasikan dan diuji dengan bukti-bukti yang mendukung. Dengan demikian , Ilmu/ sains bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.
Sains asli ini merupakan bagian dari kehidupan atau budaya masyarakatnya yang masih tetap dipertahankan dan diyakini kebenarannya. Tetap dipertahankannya sains asli ini karena mereka melihat dan mengalami sendiri kebenarannya berdasarkan pengalaman hidup (eksperimen alamiah) selama bertahun-tahun dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui proses adaptasi dengan lingkungan alam maupun budaya di mana mereka berada(George, 2001:1).
Sains asli (Indigenous Science) hanya menjelaskan sains dan kebudayaan yang ada di masyarakat secara utuh, artinya kebudayaan tersebut masih asli warisan nenek moyang dan belum terpengaruhi oleh kebudayaan lain. Sedangkan sains budaya lokal merupakan suatu perwujudan ilmu pengetahuan untuk mengungkap mitos-mitos yang ada dalam masyarakat yang berkaitan dengan sains, dengan kata lain mitos tersebut dijelaskan dengan penjelasan ilmiah (Snively dan Corsiglia,2001).
Sains budaya lokal adalah hasil uji coba yang terus-menerus dan bersifat lokal. Kelebihannya terletak pada sifatnya yang lentur dan tahan dalam beradaptasi dengan perubahan lingkungan (Megan, et al ,2009). Sains budaya lokal merupakan pendidikan yang mengajarkan peserta didik untuk selalu lekat dengan situasi konkret yang mereka hadapi. Paulo Freire menyebutkan, dengan dihadapkan pada problem dan situasi konkret yang dihadapi, peserta didik akan semakin tertantang untuk menanggapinya secara kritis.
Tanaman kelapa merupakan komoditi ekspor dan dapat tumbuh disepanjang pesisir pantai khususnya, dan dataran tinggi serta lereng gunung pada umumnya. Buah kelapa yang menjadi bahan baku minyak disebut kopra. Dimana kandungan minyaknya berkisar antara 60 – 65 %. Sedang daging buah segar (muda) kandungan minyaknya sekitar 43 %. Minyak kelapa terdiri dari gliserida, yaitu senyawa antara gliserin dengan asam lemak. Kandungan asam lemak dari minyak kelapa adalah asam lemak jenuh yang diperkirakan 91 % terdiri dari Caproic, Caprylic, Capric, Lauric, Myristic, Palmatic, Stearic, dan Arachidic, dan asam lemak tak jenuh sekitar 9 % yang terdiri dari Oleic dan Linoleic. (Warisno, 2003).
Kelapa memiliki berbagai nama daerah. Secara umum, buah kelapa dikenal sebagai coconut, orang Belanda menyebutnya kokosnoot atau klapper, sedangkan orang Prancis menyebutnya cocotier. Di Indonesia kelapa biasa disebut krambil atau klapa (Jawa). (Warisno, 2003)
Di Indonesia, tanaman kelapa telah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Sejak abad ke-19, hasil dari pohon kelapa (yaitu minyak kelapa) mulai diperdagangkan dari Asia ke Eropa. Perdagangan minyak kelapa antara Ceylon dan Inggris maupun antara Indonesia dan Belanda dimulai sejak berdirinya VOC (Verenigde Oost Indische compagnie). Karena perdagangan minyak kelapa dan kopra terus meningkat, maka para penanam modal asing di Indonesia, terutama Belanda, mulai tertarik untuk membuat perkebunan kelapa sendiri.
Kelapa (Coccos nucifere) merupakan sumber minyak nabati yang penting disamping kelapa sawit (Elacis guineensis). Mengingat semakin meningkatnya kebutuhan akan minyak nabati di Indonesia, baik minyak untuk kebutuhan rumah tangga maupun minyak secara komersil, maka peningkatan produksi minyak umumnya dan minyak kelapa khususnya perlu mendapat perhatian (Ketaren, 1986).

Standar Mutu Minyak Kelapa (Minyak Lentik)

Standar Mutu Minyak Kelapa di mulai dari bahan baku. Minyak lentik kelapa bermutu bergantung pada kualitas kelapanya. Kelapa yang sudah tua dan masih baru akan menghasilkan santan yang banyak dan minyak yang dihasilkan masih berbau harum (gurih). Apabila kelapa muda yang digunakan maka minyak lentik yang dihasilkan akan sedikit, karena santan yang dihasilkan dari kelapa muda cenderung sedikit.
Minyak ini berbeda dengan minyak goreng dalam kemasan atau curah yang biasa kita jumpai di toko-toko atau supermarket. Minyak klentik memiliki warna yang jernih kuning keemasan dengan aroma yang khas minyak kelapa. Sedangkan minyak goreng dalam kemasan yang umum kita gunakan dan kita jumpai di toko-toko atau supermarket adalah minyak yang berasal dari buah kelapa atau kelapa sawit yang telah melalui proses-proses pemurnian kembali, atau yang disebut dengan proses RBD (Refine, Bleaching and Deodorizing).
Berbeda dengan minyak klentik yang umumnya dibuat dari kelapa segar yang telah diseleksi kualitas dan cukup tuanya. Kualitas minyak klentik, bagaimanapun, jauh lebih baik dari minyak kelapa dari kopra. Namun, tetap saja juga bervariasi tergantung dari cara pemilihan kelapa dan proses pengolahannya. Bila diolah dengan cara yang tepat dan higienis, minyak klentik masih dapat digunakan untuk menggoreng seperti halnya minyak goreng hasil RBD. Hanya saja aroma kelapanya masih sangat kuat dan cukup berpengaruh terhadap hasil masakan. Namun, dalam beberapa hal, justeru itulah yang menjadi keistimewaan minyak klentik yang tidak tergantikan.
Pembuatan minyak kelapa bermutu tinggi harus di mulai dari pemilihan kelapa yang akan digunakan sebagai bahan dasar. Usahakan menggunakan kelapa yang sudah tua serta masih baru, karena akan mempengaruhi kualiatas dari minyak itu sendiri.
Hal lain yang menentukan standar mutu minyak lentik adalah proses pemarutannya. Proses pemarutan dilakukan secara tradisional yaitu diparut menggunakan tangan bukan menggunakan mesin parut. Kelapa yang telah diparut kemudian diambil santannya dengan cara diperas menggunakan tangan atau alat pemeras. Untuk mendapatkan santan yang lebih banyak serta mempermudah dalam proses pemerasannya, tambahkan sedikit air bersih (lebih bagus lagi jika air yang sudah dimasak). Proses ini dapat diulang hingga santan yang dihasilkan tidak lagi pekat (lebih encer). Saring santan yang didapat dengan menggunakan saringan halus agar santan terbebas dari sisa-sisa ampas kelapa dan simpan dalam wadah yang bersih dan steril. Sementara itu siapkan wadah dan peralatan memasaknya. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan proses memasaknya lebih cepat, sebaiknya siapkan dua wadah dan peralatan memasak. Satu untuk memanaskan krim santan, satu lagi untuk memasak krim hingga menjadi minyak kelapa.

Manfaat Minyak Klentik

Minyak Klentik dihasilkan dari santan kelapa dengan pengolahan yang masih terbilang tradisional. Minyak Klentik sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat Indonesia, terutama penduduk pedesaan yang masih menggunakan minyak klentik sebagai minyak untuk memasak konsumsi sehari-hari dibanding dengan minyak kemasan. Minyak klentik memiliki aroma khas yang gurih berbeda dengan minyak goreng pada umumnya yang terbuat dari kelapa sawit. Saat ini minyak klentik biasa digunakan sebagai minyak pijat namun juga masih ada masyarakat yang memakai minyak klentik untuk menggoreng.

Asam Laurat dan Asam Lemak Rantai Medium
Asam laurat atau asam dodekanoat memiliki rumus molekul C12H24O2. Asam laurat berbentuk kristal padat, berwarna putih, memiliki titik didih 298,9oC (pada 760 mm Hg) dan titik cair 44,0 – 44,2oC. Minyak nabati tropis sumber asam laurat yaitu minyak kelapa dan minyak inti sawit (O’Brien, 2004).
Asam laurat dalam tubuh akan diubah menjadi monolaurin. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa monolaurin bersifat antivirus, antibakteri dan antijamur. Hasil penelitian terhadap pasien Human Immunodeficiency Virus (HIV) menunjukkan bahwa pemberian monolaurin murni maupun minyak kelapa memberikan pengaruh positif terhadap penderita HIV (Enig, 1999). Asam laurat terbukti secara in vitro dan in vivo dapat digunakan sebagai antibiotik alami pada kulit yang terinfeksi Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Asam laurat memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dan terbukti dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen Listeria monocytogenes (Wang dan Johnson, 1992).
Bruce Fife dalam bukunya berjudul The Healing Miracle of Coconut Oil, minyak kelapa dengan komponen utamanya asam laurat mempunyai beberapa manfaat. Manfaat tersebut antara lain: 1) mengurangi resiko aterosklerosis dan penyakit yang terkait, 2) menurunkan resiko kanker dan penyakit degeneratif lainnya, 3) membantu mencegah infeksi virus, 4) mensupport sistem kekebalan tubuh, 5) membantu mencegah osteoporosis, 6) membantu mengontrol diabetes, 7) memulihkan kembali (kehilangan) berat badan, 8) menyediakan sumber energi yang cepat, 9) menyediakan sedikit kalori dibandingkan dengan lemak lain, 10) menyediakan nutrisi penting untuk kesehatan, 11) memperbaiki sistem pencernaan dan penyerapan nutrisi, 12) membantu kulit tetap lembut dan halus, 13) membantu mencegah kanker kulit, 14) tidak mengandung kolestrol, 15) tidak menaikkan kolestrol darah, dan 16) tidak menyebabkan kegemukan (Fife, 2003).
Asam laurat yang memiliki 12 atom karbon pada trigliseridanya termasuk dalam kelompok Medium Chain Fatty Acid (MCFA) atau ALRM. ALRM memiliki 6 sampai 12 atom karbon (Marten, et. al., 2006). Keunggulan ALRM dalam proses pencernaan dibanding asam lemak tak jenuh yaitu lebih cepat proses metabolismenya dan diserap oleh usus (Marten, et. al., 2006), dapat diabsorpsi via sistem vena portal dan tidak memerlukan jalur cylomicron untuk ditransfer dari darah ke sel.

5 thoughts on “Minyak klentik, termasuk makromolekul dan Bagaimana secara Ethnosains?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *